Rumah Halal https://rumahhalal.com Property Syariah bogor Sat, 13 Apr 2019 04:45:20 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.0.4 https://rumahhalal.com/wp-content/uploads/2018/02/cropped-logo1-2-32x32.png Rumah Halal https://rumahhalal.com 32 32 PROGRAM KONVERSI DEVELOPER HIJRAH https://rumahhalal.com/blog/2018/09/24/program-konversi-developer-hijrah/ Mon, 24 Sep 2018 06:58:48 +0000 https://rumahhalal.com/?p=2669 RumahHalal.com - PROGRAM KONVERSI DEVELOPER HIJRAH @ CEO Developer Property Syariah Projek Anda mangkrak ? Apa penyebab mandegnya projek Anda ? Apakah karena tidak laku ? Atau karena konsumennya banyak ditolak bank ? Atau kehabisan dana untuk menjalankan projek ? Atau jangan-jangan Anda mengalami situasi berikut : dapat fasilitas kucuran dana dari bank, tapi ternyata tetap […]

The post PROGRAM KONVERSI DEVELOPER HIJRAH appeared first on Rumah Halal.

]]>
RumahHalal.com – PROGRAM KONVERSI DEVELOPER HIJRAH

@ CEO Developer Property Syariah

Projek Anda mangkrak ?

Apa penyebab mandegnya projek Anda ? Apakah karena tidak laku ? Atau karena konsumennya banyak ditolak bank ? Atau kehabisan dana untuk menjalankan projek ?

Atau jangan-jangan Anda mengalami situasi berikut : dapat fasilitas kucuran dana dari bank, tapi ternyata tetap tidak cukup untuk menggerakkan projek ?

Fasilitas kredit konstruksi dipakai buat bayar lahan. Pembiayaan untuk pembelian lahan habis terpakai untuk beli kendaraan dan operasional. Pencairan KPR bank kepakai untuk kawin lagi ? Hayooo ngaku… 😜

👎🏼 Percayalah, jika masih menggunakan skema ribawi ala perbankan, Anda pasti jatuh. Anda pasti rugi. Anda pasti gelisah. Menjalankan projek dengan skema perbankan itu berat, dunia akhirat.

☔ Bank itu ibarat menawarkan payung saat cuaca sedang cerah. Tapi begitu mulai gerimis apalagi saat hujan lebat, mereka akan menarik paksa payung dari Anda. Iya ‘kan ? Betul atau betul ?

Saatnya Anda bertaubat…
Saatnya Anda berhijrah…

👉🏼 Kami akan bantu fasilitasi Anda untuk beralih total ke skema bisnis Developer Property Syariah Tanpa Bank. Gimana ? Mau dibantu dikonversi ?

“Alhamdulillah, selama hampir setahun saya berusaha keras menawarkan rumah di 2 cluster milik saya di Kota Bogor, (yang waktu itu memakai bank syariah) tak satupun yang laku. Di tengah kegalauan waktu itu , Allah pertemukan kami dengan DPS. Masyaallah, gak sampai sebulan, 2 cluster sold out. Terima kasih DPS, syukron wa jazakallah khairan katsiran ustadz Rosyid Aziz. Barakallahu fiikum…”
(Muhammad Abu Bakar, Mumtaz Properti Syariah, Developer Cluster Azzura & Zafira Residence, Kota Bogor)

“Atas nama Developer Pal Gading Regency, kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada DPS. Selama 3 tahun projek ini jalan ditempat. Sekali disentuh oleh team DPS dan dikonversi ke Property Murni Syariah, baru sebulan sudah 23 unit yang laku terjual. Alhamdulillah…”
(Zainudin Owner Developer Pal Gading Residence, Gunung Kidul, Yogyakarta)

“Ini luar biasa. 40 unit unit projek perumahan saya ludes begitu dikonversi ke skema Syariah Tanpa Bank hanya dalam waktu 3 bulan saja. Sekarang pun, saya ajak kakak-kakak saya untuk total hijrah menjalankan skema ini..”
(Firnendi Irawan, Owner Developer Sabrina Azzura, Bekasi)

“Dulu, pas masih pake skema konvensional yang bergelimpangan riba, hutang saya tembus hingga 8 M. Alhamdulillah setelah hijrah, semua hutang saya lunas tuntas. Dan sejak memutuskan memakai skema Property Syariah, sudah 80-an unit rumah laku terjual. Berkah dengan skema Syariah, alhamdulillah..”
(Gamal Haris, Developer Taylon Sejahtera, Pati – Jateng)

Masih banyak teman-teman yang lain yang justru mendapat kebaikan dan keberkahan setelah hijrah. Hijrah adalah jalan menuju kebaikan, keberkahan dan kebahagiaan hidup. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an :

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (TQS. At Taubah [9]: 20).

Bila sebuah bisnis atau project didanai oleh fasilitas ribawi, sedangkan penjualan tak kunjung naik. Atau bahkan bukannya profit yang didapat, melainkan minus atau rugi. Bisa jadi usaha yang dijalani saat ini berkembang dari sumber yang tidak diberkahi. Maka hijrah adalah solusi.

Hijrah adalah langkah awal untuk memperbaiki kualitas diri. Dari langkah awal hijrah inilah seseorang menuju kondisi yang lebih baik. Hijrah bisa menjadi solusi permasalahan kehidupan. Allah berfirman dalam Al Qur’an :
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (TQS an-Nisa’: 100)

Sudah saatnya kembali ke jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah SWT dengan meninggalkan transaksi riba. “Tidak ada seorangpun yang melakukan praktek riba kecuali akhir dari urusannya adalah hartanya menjadi sedikit. (Miskin).” (HR. Ibnu Majah, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu)

🗣 Kami dari Developer Property Syariah telah membuktikan bahwa project property bisa berhasil meski tanpa bantuan pembiayaan bank, tanpa fasilitas yang berunsur ribawi, baik terkait lahannya, konstruksinya maupun skema penjualannya.

🗣 Bila Anda saat ini masih menggunakan fasilitas ribawi, maka sudah saatnya Anda mengambil langkah awal hijrah dan konversi. Segera konversi project Anda ke skema syariah yang aman dan nyaman. Aman sampai project tuntas dan nyaman bagi setiap personil yang terlibat dalam project tersebut.

🗣 IKUTI SEGERA…
PROGRAM AKBAR :

100 DEVELOPER HIJRAH

Yang akan kami selenggarakan pada :

📅 Selasa, 25 September 2018
⏰ Jam 08.30 sd 17.00 WIB
🏣 Di Hotel Amaris, Jl Soepomo Tebet, Jakarta.

Kalau bukan kita, siapa lagi ?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi ?
Kalau bukan pake Syariah, masa’ pake riba lagi ?

Coblossssss….!!
😀

 

The post PROGRAM KONVERSI DEVELOPER HIJRAH appeared first on Rumah Halal.

]]>
JAMINAN BARANG DALAM JUAL BELI https://rumahhalal.com/blog/2018/08/25/jaminan-barang-dalam-jual-beli/ Sat, 25 Aug 2018 07:56:21 +0000 https://rumahhalal.com/?p=2434 RumahHalal.com - Kali ini RumahHalal akan membagikan artikel mengenai "Jaminan Barang Dalam Jual Beli" mari kita simak penjelasan dibawah ini. JAMINAN BARANG DALAM JUAL BELI Oleh : Ustadz Muhammad Shiddiq Al Jawie Dalam jual beli kredit (bai’u at-taqsith) penjual boleh mensyaratkan jaminan/agunan (rahn) dari pembeli. (Adnan Sa’duddin, Bai’u At-Taqsith wa Tathbiqatuha al-Mu’ashirah, hal. 187). Namun jaminan ini […]

The post JAMINAN BARANG DALAM JUAL BELI appeared first on Rumah Halal.

]]>
RumahHalal.com – Kali ini RumahHalal akan membagikan artikel mengenai “Jaminan Barang Dalam Jual Beli” mari kita simak penjelasan dibawah ini.

hukum menjamin barang yang dibeli

JAMINAN BARANG DALAM JUAL BELI

Oleh : Ustadz Muhammad Shiddiq Al Jawie

Dalam jual beli kredit (bai’u at-taqsith) penjual boleh mensyaratkan jaminan/agunan (rahn) dari pembeli. (Adnan Sa’duddin, Bai’u At-Taqsith wa Tathbiqatuha al-Mu’ashirah, hal. 187). Namun jaminan ini wajib berupa barang lain, yaitu bukan barang obyek jual beli. Karena menjadikan barang yang dibeli sebagai jaminan (rahn al-mabii’) tidak boleh secara syar’i.

Inilah pendapat fuqaha yang rajih menurut kami. Imam Syafi’i, seperti dikutip Imam Ibnu Qudamah, menyatakan jika dua orang berjual beli dengan syarat menjadikan barang yang dibeli sebagai jaminan atas harganya, jual belinya tidak sah. Sebab jika barang yang dibeli dijadikan jaminan (rahn), berarti barang itu belum menjadi milik pembeli. (Al-Mughni, 4/285).

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, ”Tidak boleh jual beli dengan syarat menjaminkan barang yang dibeli.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, 2/287).

Imam Ibnu Hazm berkata,”Tidak boleh menjual suatu barang dengan syarat menjadikan barang itu sebagai jaminan atas harganya. Kalau jual beli sudah telanjur terjadi, harus dibatalkan.” (Al-Muhalla, 3/427).

Memang ada fuqaha yang membolehkan. Kata Imam Ibnu Qudamah,”Menurut Imam Ahmad, jaminan berupa barang yang dibeli sah.” (Al-Mughni, 4/285; Al-Fiqh ‘ala Al-Mazhahib al-Arba’ah, 2/166). Imam Ibnul Qayyim berkata,”Boleh mensyaratkan jaminan berupa barang yang dibeli.” (Ighatsah al-Lahfan, 2/53; I’lam al-Muwaqqi’in, 4/33).

Pendapat inilah yang diadopsi Majma’ Al-Fiqh Al-Islami bahwa,”Penjual tidak berhak mempertahankan kepemilikan barang di tangannya, tapi penjual boleh mensyaratkan pembeli untuk menjaminkan barang yang dibeli guna menjamin hak penjual memperoleh pembayaran angsuran yang tertunda.” (Ali as-Salus, Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu’ashirah, hal. 605).

Namun menurut kami, pendapat ini tidak dapat diterima. Karena menjaminkan barang obyek jual beli adalah syarat yang menyalahi konsekuensi akad (muqtadha al-‘aqad), yakni hak kepemilikan dan melakukan tasharruf (perbuatan hukum) seperti jual beli atau hibah oleh pembeli. Imam Taqiyudin an-Nabhani berkata, ”Jika seseorang menjual suatu barang kepada orang lain, lalu mensyaratkan orang itu untuk tidak menjualnya kepada siapa pun, maka syarat itu tidak berlaku tapi jual belinya sah, karena syarat itu menafikan konsekuensi akad (muqtadha al-‘aqad), yakni kepemilikan barang dan melakukan tasharruf padanya.” (al-Syakhshiyah al-Islamiyah, 3/52).

Syarat yang menyalahi hukum syara’ tidak dapat diterima, karena sabda Nabi SAW, ”Syarat apa saja yang tidak ada dalam Kitabullah, maka ia batil, meski ada seratus syarat.” (HR Bukhari dan Muslim). (Imam Shan’ani, Subulus Salam, 3/10).

Selain itu, syarat itu tertolak berdasar kaidah fiqih : Kullu syarthin khaalafa aw nafaa muqtadha al-‘aqad fahuwa baathil (Setiap syarat yang menyalahi atau meniadakan konsekuensi akad, adalah syarat yang batal). (M. Sa’id al-Burnu, Mausu’ah al-Qawa’id al-Fiqhiyah, 8/418).

Kesimpulannya, tidak boleh menjadikan barang yang dibeli sebagai jaminan dalam jual beli kredit. Yang dibolehkan adalah jaminan berupa barang lain, bukan barang obyek jual beli. Wallahu a’lam.

=====

Sebagai tambahan, berikut ada artikel soal jawab yang juga menjelaskan permasalahan ini.

Soal:

Bolehkah menggunakan barang yang dibeli dengan kredit sebagai jaminan, sebagaimana yang dilakukan oleh bank syariah? Lalu jika status jaminan sebagai istitsaq (bukti kepercayaan), bagaimana hukum menjual barang agunan tersebut untuk melunasi hutang?

Jawab:

Pertama: status barang yang dibeli dijadikan jaminan memang ada ikhtilaf di kalangan ulama. Ada yang membolehkan dan tidak. Yang menyatakan barang yang dibeli tidak boleh dijadikan jaminan (al-mabi’ rahna[an]) adalah Imam as-Syafii dan Ahmad, dalam satu riwayat.1

Dalam kitab Al-Hawi al-Kabir, sebagaimana dinukil oleh al-Marudi, Imam as-Syafii menyatakan:

وَلَوِ اشْتَرَطَا أَنْ يَكُونَ المَبِيعُ نَفْسَهُ رَهْناً، فَالْبَيْعُ مَفْسُوخٌ مِنْ قَبْلِ أَنَّهُ لَمْ يَمْلِكْهُ المَبِيعُ إِلاَّ بِأَنْ يَكُونَ مَحْبُوساً عَلَى الْمُشْتَرِي

Kalau penjual-pembeli mensyaratkan agar barang yang dibeli tersebut sebagai agunan (jaminan), maka akad jual-beli tersebut batal, dari aspek bahwa barang yang dibeli tersebut berstatus tersandera bagi pembelinya.

Alasan batalnya agunan seperti ini ada dua:

1. Ini merupakan akad gadai (rahn), sebelum menjadi hak milik. Sebab, memiliki barang yang dibeli bisa dilakukan dengan akad dan terjadinya perpisahan dari majelis akad, atau dengan akad saja. Adapun akad rahn di sini terjadi terhadap barang yang dibeli sebelum terjadinya dua hal ini, maka status rahn tersebut terjadi sebelum barangnya dimiliki. Padahal rahn terhadap sesuatu sebelum dimiliki jelas batal.

2. Akad rahn meniadakan dijaminkannya harga yang dibayarkan, karena rahn ini merupakan akad amanah. Jika harga dijadikan agunan, maka sebenarnya yang diagunkan itu bukanlah harganya, melainkan nilainya. pasalnya, ketika akad rahn dilakukan, barang belum diserahkan, sehingga harganya juga belum diterima. Sebab, ketika barang yang dijual tersebut diagunkan sebelum diserahkan kepada pembeli, berarti penjualnya mendapatkan agunan berupa harga (tsaman). Padahal barang yang diagunkan dengan harga, tidak wajib dijamin dengan harga pula. Konsekuensinya, di sini ada syarat agunan yang bertentangan, karena itu syarat tersebut jelas batal.
Adapun jual-belinya dinyatakan batal, juga bisa dikembalikan pada dua alasan:

1. Akad jual-beli mengharuskan diserahkannya barang yang dibeli, sedangkan akad rahn, mengharuskan barang harus ditahan. Jika barang yang dijual disyaratkan sebagai agunan, maka syarat tersebut akan menangguhkan penyerahan barang yang dijual. Padahal jual-beli yang mensyaratkan penangguhan penyerahan barang yang dijual statusnya batil.

2. Jual-beli juga meniscayakan terjadinya pemindahan manfaat barang yang dibeli kepada pembelinya, sebagaimana pemindahan hak miliknya. Jika barang yang dibeli/dijual tersebut dijadikan agunan, maka manfaatnya jelas tidak bisa dipindahkan, sehingga jual-beli seperti ini jelas-jelas batil.

Adapun pendapat yang membolehkan, dinyatakan sebagai pendapat Imam Ahmad, menurut riwayat yang zahir, tetapi tidak dikemukakan alasannya. Hal yang sama juga dinyatakan dalam Keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami no 6/2/53, yang membolehkan penjual menetapkan syarat kepada pembeli untuk mengagunkan barang yang dibeli agar bisa menjamin kewajibannya dalam membayar cicilan. Dalam Keputusan No. 6/1410 H tentang agunan properti juga menyatakan hal yang sama. Namun, semuanya tidak disertai alasan (reasoning) dan pijakan dalil yang jelas.

Al-‘Alim Syaikh ‘Atha’ Abu Rusythah, dalam soal jawabnya men-tarjih pendapat yang pertama. Demikian juga kami, memandang bahwa pendapat yang pertama merupakan pendapat yang lebih kuat, baik dari aspek dalil maupun alasan (reasoning).

Kedua: tentang kebolehan pihak yang menghutangkan (da’in) mengambil agunan (rahn) dari pihak yang berhutang (madin) untuk menutupi hutangnya, maka al-‘Alim Syaikh ‘Atha’ Abu Rasythah, menjelaskan kebolehan tersebut didasarkan pada perbuatan Nabi saw. yang telah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan hutang, kemudian beliau memberikan baju besinya sebagai jaminan.2

Hanya saja, pihak dai’n tidak berhak memiliki agunan tersebut, ketika madin tidak bisa membayar hutangnya. Sebab, status agunan tersebut tetap menjadi milik pemiliknya, sebagaimana ketentuan yang dinyatakan dalam hadis:

لا يُغلَقُ الرَّهْنُ مِنْ صَاحِبِهِ الَّذِيْ رَهِنَه

Agunan (gadai) tidak menghalangi pemilik yang mengagunkannya.3

Frasa “Tidak menghalangi pemilik yang mengagunkannya” bermakna bahwa barang yang digadaikan tidak serta-merta menjadi milik da’in, jika madin gagal menyelesaikan hutangnya. Namun, barang tersebut boleh dijual dan digunakan untuk menutupi hutangnya, lalu sisanya dikembalikan kepada pemiliknya.

Uraiannya sebagai berikut:

1- Jika hutang tersebut sudah jatuh tempo, kemudian da’in menuntut kepada madin agar menyelesaikan hutangnya, maka madin berhak mendapatkan harta lain selain yang diagunkan, dan harta tersebut digunakan untuk menyelesaikan hutang madin. Setelah itu, agunannya dilepaskan, dan diserahkan kembali kepada pemiliknya. Namun, jika hartanya yang lain tidak cukup, baik semuanya atau sebagiannya, maka pihak yang menggadaikan (madin) wajib menjual barang yang diagunkan (marhun) dengan izin orang yang mendapatkan agunan (murtahin/da’in). Lalu hutang kepada pihak yang mendapatkan agunan (murtahin/da’in) dibayar terlebih dulu, sebelum yang lain, dengan uang yang yang didapatkan dari hasil penjualan. Setelah itu, sisanya dikembalikan kepada pemiliknya.

2- Berdasarkan penjelasan di atas jelas sekali, bahwa murtahin/da’in tidak boleh menguasai barang agunan jika madin tidak bisa menyelesaikan hutangnya. Demikian juga dia tidak boleh langsung menjual agunan tersebut, tetapi harus melalui pengadilan. Pengadilanlah yang bisa memaksa pihak yang menggadaikan (rahin/madin) untuk menjual barang agunannya. Sebabnya, agunan tersebut tetap menjadi milik pemiliknya, sebagaimana hadis di atas. Karena itu, dialah yang harus menjualnya dan melunasi hutangnya dengan hasil jual tersebut. Jika tidak mau, maka penguasa/hakim harus memaksa dia untuk menjual dan melunasi hutangnya. Selebihnya, tetap harus dikembalikan kepada pemiliknya.4 []

Catatan kaki:

1 Muhammad bin Hasan al-Marudi, Al-Hawi al-Kabir fi al-Fiqh as-Syafii, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, t.t., VII/296; Ibn Qudamah, Al-Mughni ‘ala Mukhtashar al-Khiraqi, al-Marja’ al-Akbar, Juz VI/444.

2 HR Muslim dari ‘Aisyah.

3 HR as-Syafii dari Sa’id bin al-Musayyib

4 “Soal-Jawab tertanggal 5 Syawal 1428 H/16 Nopember 2007 M”. Sumber: Lihat, http://hizb-ut-tahrir.info/arab…/index.php/HTAmeer/QAFindex/

Sumber : Majalah Al Waie edisi April 2012, judul asli : Seputar Barang Agunan

The post JAMINAN BARANG DALAM JUAL BELI appeared first on Rumah Halal.

]]>
JUAL BELI MERK DAGANG https://rumahhalal.com/blog/2018/03/23/jual-beli-merk-dagang/ https://rumahhalal.com/blog/2018/03/23/jual-beli-merk-dagang/#comments Fri, 23 Mar 2018 03:13:06 +0000 https://rumahhalal.com/?p=1358 RumahHalal.com - Merk dagang adalah nama dan bentuk yang bisa membedakan barang tertentu dengan barang lain. Saat ini, inilah fakta yang disebut merk dagang. Merk dagang ini dijual untuk bisa dimanfaatkan oleh pembelinya. Merk dagang ini secara riil menghasilkan manfaat. Manfaat itu sendiri merupakan harta. Dalilnya adalah sabda Rasul saw kepada orang yang meminta dinikahkan dengan seorang […]

The post JUAL BELI MERK DAGANG appeared first on Rumah Halal.

]]>
RumahHalal.com – Merk dagang adalah nama dan bentuk yang bisa membedakan barang tertentu dengan barang lain. Saat ini, inilah fakta yang disebut merk dagang. Merk dagang ini dijual untuk bisa dimanfaatkan oleh pembelinya. Merk dagang ini secara riil menghasilkan manfaat. Manfaat itu sendiri merupakan harta. Dalilnya adalah sabda Rasul saw kepada orang yang meminta dinikahkan dengan seorang wanita yang menyerahkan dirinya kepada Nabi saw, “Aku telah nikahkan kamu dengannya dengan (mahar) hafalanmu dari al-Quran.” [Lihat, Ibn Hajar, Fath al-Bari, IX/179]

Rasulullah saw telah menetapkan manfaat mengajarkan al-Quran sebagai harta. Ibn Rajab mengatakan, “Seandainya manfaat ini bukan merupakan harta, niscaya manfaat tersebut tidak sah digunakan untuk tujuan ini (menjadi mahar).” [Lihat, al-Qawaid, hal. 233] Manfaat merupakan harta juga ditegaskan oleh riwayat al-Bukhari, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Yang paling berhak untuk kalian ambil upahnya adalah mengajarkan kitabullah.” [Hr. Bukhari]

Rasulullah saw telah menetapkan manfaat mengajarkan al-Quran dengan kompensasi finansial. Ini menunjukkan adanya karakteristik harta dari manfaat tersebut.

Untuk menjual merk dagangnya, penjual harus menyediakan apa saja informasi dan keahlian yang diperlukan oleh pembeli, agar barang baru –yang dia produksi—kualifikasinya sama dengan barang aslinya. Sebab, jika di antara keduanya beda, maka ini merupakan penipuan dan tipu muslihat. Padahal, Rasul saw telah bersabda, “Siapa yang melakukan penipuan, maka dia bukan dari golongan kami.” [Hr. Muslim]

Orang yang pergi ke pasar untuk membeli barang, dengan seluruh zatnya, sebenarnya dia mencurahkan hartanya sebagai kompensasi barang, yang namanya terkait dengan karakteristik dan standar tertentu. Berdasarkan semuanya itu, dia pun membayar harga barang tersebut. Jika nama dan bentuknya tetap, tetapi spesifikasi dan standarnya berbeda, maka pembeli tersebut sebenarnya telah membeli barang lain, bukan barang yang harganya dia bayar untuk dibeli. Ini jelas merupakan bentuk penipuan.

As-Salus mengatakan, “Jika merk barang tertentu, dan merk tersebut dipindahtangankan kepada perusahaan lain, bukan pemilik merk aslinya, maka pemilik asli merk tersebut wajib memberikan apa yang dibutuhkan oleh pemilik barunya, yaitu seluruh informasi, bahan atau yang lainnya, sehingga barang baru tersebut sama sekali tidak berbeda dengan barang aslinya. Jika tidak, maka ini merupakan tindak penipuan, kecurangan dan gharar kepada masyarakat.” [Lihat, As-Salus, al-Iqtishâd al-Islâmî wa al-Qadhâyâ al-Fiqhiyah al-Mu’âshirah, hal 749]

Pelanggaran terhadap merk dagang dengan menirunya, juga merupakan bentuk penipuan. Mencantumkan nama merk dagang barang tertentu yang sudah dikenal pada barang lain juga bagian dari penipuan, kebohongan dan kecurangan kepada pembeli. Karena itu, ini juga tidak boleh. Yang diperbolehkan adalah, jika merek yang digunakan mencerminkan kondisi barang tersebut sebagaimana aslinya, baik dari segi bentuk, kualifikasi maupun ciri khasnya. Semuanya harus sama. Jika tidak, maka penggunaan merek dagang tersebut jelas penipuan.

Karena merek ini bagian dari jasa, yang mempunyai nilai finansial, maka merek dagang ini bisa dijual kepada pihak lain. Dengan syarat, tidak ada manipulasi produk, baik segi bentuk, kualifikasi maupun ciri khasnya.

Sumber : FP Ustad Rosyid Aziz

The post JUAL BELI MERK DAGANG appeared first on Rumah Halal.

]]>
https://rumahhalal.com/blog/2018/03/23/jual-beli-merk-dagang/feed/ 2
Yuk! Intip Alasan Komika “BABE CABITA” Memilih Property Syariah https://rumahhalal.com/blog/2018/03/21/yuk-intip-alasan-komika-babe-cabita-memilih-property-syariah/ Wed, 21 Mar 2018 02:52:36 +0000 https://rumahhalal.com/?p=1321 RumahHalal.com - Pasti kalian para pecinta Rumah Halal mengetahui sesosok komika fenomenal yang biasa disebut "BABE CABITA". komika kelahiran medan ini mempunyai nama asli yaitu Priya Pyrayogha Pratama. Ia dikenal sebagai komika yang menjuarai STAND UP COMEDY musim ke-3, babe menjuarai kompetesi tersebut setelah berhasil mengalahkan FICO FACHRIZA. tidak disangka-sangka komika dengan kata-kata yang sering dilontarkan yaitu "Ahh... Sudahlah" ini lebih memilih KPR Syariah. setelah […]

The post Yuk! Intip Alasan Komika “BABE CABITA” Memilih Property Syariah appeared first on Rumah Halal.

]]>
RumahHalal.com – Pasti kalian para pecinta Rumah Halal mengetahui sesosok komika fenomenal yang biasa disebut “BABE CABITA”. komika kelahiran medan ini mempunyai nama asli yaitu Priya Pyrayogha Pratama. Ia dikenal sebagai komika yang menjuarai STAND UP COMEDY musim ke-3, babe menjuarai kompetesi tersebut setelah berhasil mengalahkan FICO FACHRIZA. tidak disangka-sangka komika dengan kata-kata yang sering dilontarkan yaitu “Ahh… Sudahlah” ini lebih memilih KPR Syariah. setelah ditolak oleh beberapa KPR Konvensional karena persyaratannya yang ribet kini babe sudah nyaman dengan KPR Syariah.

Yuk! Kita simak alasan kenapa BABE CABITA lebih memilih KPR Syariah.

“Tadinya Saya cari rumah yg prosesnya nggak ribet, yg tanpa perlu melengkapi berkas2, seperti gak pakek slip gaji, punya alamat kantor resmi (#TanpaBiChecking), karena saya artis bukan pekerja kantoran jadi kesulitan melengkapi berkas yang diminta bank. Tapi Alhamdulillah setelah ngerti proses pembelian Rumah dari Developer Property Syariah yang mudah, simple dan Syari’e justru sy baru tahu dosanya Riba. Selain itu property syariah ini juga sangat bermanfaat, karena: 1. Bisa membantu org yang ingin punya rumah tapi tdk punya cash & selalu ditolak bank, 2. Bisa menyelamatkan org dari riba, termasuk saya yg tak sengaja terselamatkan, 3. Sebagai sarana Dakwah, karena jujur sebelum ini saya tidak tahu tentang apa itu riba”

Itulah alasan mengapa BABE CABITA lebih memilih KPR Syariah. bukan hanya tanpa riba, tapi juga sangat bermanfaat bagi umat islam yang ingin mempunyai rumah secara kredit tapi tidak mau lewat bank.

The post Yuk! Intip Alasan Komika “BABE CABITA” Memilih Property Syariah appeared first on Rumah Halal.

]]>
DULU SAYA BODOH by “Saptuari Sugiharto” https://rumahhalal.com/blog/2018/03/20/dulu-saya-bodoh-by-saptuari-sugiharto/ Tue, 20 Mar 2018 02:18:09 +0000 https://rumahhalal.com/?p=1314 RumahHalal.com - Pagi ini membaca postingan di Syarea World, ada yang meringkas isi seminar Masyarakat Tanpa Riba oleh Ustadz Samsul Arifin. Kenapa orang-orang banyak yang bodoh bertahan dalam utang. Saya seperti kena tamparan ketika dulu 6 tahun juga dalam kebodohan. Berikut ringkasannya yang ditulis mas Rofiq Muhammad, B.O.D.O.H?? Taukah Anda Apakah Itu?? Dan ditujukan bagi siapakah […]

The post DULU SAYA BODOH by “Saptuari Sugiharto” appeared first on Rumah Halal.

]]>
RumahHalal.com – Pagi ini membaca postingan di Syarea World, ada yang meringkas isi seminar Masyarakat Tanpa Riba oleh Ustadz Samsul Arifin. Kenapa orang-orang banyak yang bodoh bertahan dalam utang. Saya seperti kena tamparan ketika dulu 6 tahun juga dalam kebodohan. Berikut ringkasannya yang ditulis mas Rofiq Muhammad,

B.O.D.O.H??
Taukah Anda Apakah Itu?? Dan ditujukan bagi siapakah sebutan B.O.D.O.H itu?
Sebutan ini ditujukan bagi Para Penghutang Riba…

WHY??

1. Dia Membayar kepastian dengan ketidak pastian artinya ketika kita berhutang, kita mendapat nominal yang pasti dari pemberi hutang sedangkan keuntungan yg ingin didapatkan masih dalam batas angan-angan.

2. Orang yang berhutang memiliki optimisme yang berlebihan, artinya terlalu yakin bisa membayar cicilannya, sehingga mendahului kehendak Alloh, padahal belum tentu bisa sukses dalam proses mencicil tiap bulannya karena sesuatu yang haram akan meruntuhkan usaha yang kita bangun dengan RIBA.

3. Bisnisnya Akan kehilangan daya saing

4. Berkembang melebihi kapasitasnya

5. Salah mempersepsikan kepercayaan

6. Merubah perilaku seseorang dengan seketika.

7. Terkena tabiat buruk dalam hutang, apa itu?
Tabiat buruk hutang di dunia :
– utang adalah candu
– dosisnya yang selalu bertambah
– menambah beban hidup
– berdampak dengan perubahan emosional
– membuat masa depan yang tidak cerah.
– gelisah di malam hari
– terhina di siang hari
– utang adalah solusi jalan buntu
– berbuat kriminal
– akan mudah terjerumus dalam kesyirikan
– menjadi pendusta
– ingkar dalam berjanji
– hilang kemesraan dalam rumah tangga
– gagal fokus dalam hidup
– terpuruk dan makin terpuruk
– ujung-ujungnya bisa bunuh diri

Tabiat buruk hutang di akhirat :
– tidak akan mendapat syafa’at dari Rosululloh
– amal ibadah selama di dunia habis
– ditumpuk dengan dosa si pemberi hutang
– digantung di depan pintu syurga
– tidak akan masuk syurga meski mati syahid

Masih adakah yang mau berhutang dan bersinergi dengan RIBA?

JLEB! JLEB!
Bodohnya saya dulu.. pernah merasakan dunia akherat limbung kalau sudah gaya hidupnya ngutang…

Pernah saya dikirimi video pengajian Kyai Anwar Zahid yang lucu dan merajai Youtube, sindirian pak Kyai bikin nyesek..
“Orang-orang yang suka ngutang dengan bayar bunga, kayak minjem dom (jarum jahit) ngembalikannya tiang listrik.. yo mumet ndase!”

JLEB.. Youuur head!
Basa Jawanya.. gunduuulmu!

Sumber : FP Muhammad Rosyid Aziz

The post DULU SAYA BODOH by “Saptuari Sugiharto” appeared first on Rumah Halal.

]]>
PERASAAN SAAT MENCICIPI KERJA DI BANK RIBA https://rumahhalal.com/blog/2018/03/19/perasaan-saat-mencicipi-kerja-di-bank-riba/ Mon, 19 Mar 2018 04:47:32 +0000 https://rumahhalal.com/?p=1254 RumahHalal.com - Banyak yang berpikir jika seorang muslim ditimpa musibah, berarti dia sedang mendapat teguran dari Allah, padahal tidak semuanya begitu. Kadang kala kita lupa untuk berpikir dan melihat hal yang benar dan salah di mata Allah, hanya karena masalah takut besok tidak bisa makan karena memaksakan pekerjaan yang sebetulnya haram disisinya. Kaya bukan berarti mendapat […]

The post PERASAAN SAAT MENCICIPI KERJA DI BANK RIBA appeared first on Rumah Halal.

]]>
RumahHalal.com – Banyak yang berpikir jika seorang muslim ditimpa musibah, berarti dia sedang mendapat teguran dari Allah, padahal tidak semuanya begitu. Kadang kala kita lupa untuk berpikir dan melihat hal yang benar dan salah di mata Allah, hanya karena masalah takut besok tidak bisa makan karena memaksakan pekerjaan yang sebetulnya haram disisinya.

Kaya bukan berarti mendapat rahmat dari Allah. Karena tidak semua orang kaya adalah rahmat dari Allah. Karena bisa jadi kekayaan yang kita miliki adalah sebuah adzab yang ditimpakan oleh Allah karena kita tidak mau berpikir soal amal kebaikan dan berlomba – lomba mencari jalan pintas agar bisa setidaknya terhindar masuk ke dalam api neraka.

Contoh sederhananya adalah orang – orang yang menggambar makhluk hidup, baik yang bekerja maupun yang memiliki hobi. Ataupun orang – orang yang masuk dan bekerja di instansi ribawi, bekerja di bank konvensional, meminjam uang di sana, menabung di sana, adminnya, jajaran direksinya, satpamnya hanya karena ada yang mengatakan boleh.

Artinya: “Riba itu ada tujuh puluh tiga pintu dan yang paling ringan adalah seperti seorang laki-laki yang menikahi ibu kandungnya sendiri“. (HR. Ibnu Majah)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memakan riba, memberi makan riba (orang yang memberi riba kepada pihak yang mengambil riba), juru tulisnya, dan dua saksinya. Beliau mengatakan: ‘Mereka itu sama’.” [HR. Muslim]

Dari dua Hadist diatas terlihat bahwa riba itu memiliki dosa yang tidak ringan. Coba lihat di hadist pertama, betapa bejatnya seseorang yang menikahi/ berzina dengan ibu sendiri. Kita tahu bahwa ibu adalah mahram kita, dan kita tahu bahwa dosa berzina itu adalah dosa yang sangat berat, bahkan ada hadist yang mengatakan bahwa dosa orang yang tertangkap sedang berzina, maka ia akan dihukum dengan cara di rajam sampai mati. Tidak perlu menjadi ahli tafsir untuk tahu bahwa berzina adalah haram, dan tidak ada ulama yang memperbolehkan kita berzina atau berhubungan intim kepada selain istri dan budak kita.

Kebanyakan orang jika mendengar seseorang yang keluar dari bank pasti dikatakan “goblok”. Saya tahu alasan jelasnya, karena kerja di bank itu enak, tidak berkeringat, pakaian rapi dan dengan gaji dan bonus yang tinggi. Selalu saja mereka yang pro dengan bank riba ini, baik BRI, Mandiri, BCA, dan instansi lainnya tidak melihat lebih jauh dosa yang akan di terima. Padahal kita tidak tahu apakah ibadah – ibadah yang kita kerjakan ini, baik sholat, zakat, puasa dan sedekah, semuanya akan diterima oleh Allah ataukah akan tertolak.

Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sementara ia tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur (HR Ahmad dan ath-Thabrani)

Kenapa takut susah dan tidak punya pekerjaan jika keluar dari riba’? kenapa anda harus mematok bahwa ukuran mendapat pekerjaan yang baik minimal harus di gaji UMR/UMK?

Alhamdulillah saya bisa keluar dari riba, bertepatan setelah saya masuk ke instasi ribawi sesaat setelah masuk ke lembaga tersebut. Baru saja beberapa hari, saya merasa tidak betah dan beruntungnya saat itu saya memiliki kuota internet yang selalu saya pakai untuk main game online di HP(maen game juga tidak bermanfaat, tapi tidak akan saya bahas disini).

hal itu bermula dari saat saya kerja di pabrik sebagai karyawan outsourcing yang sebenarnya gajinya itu sudah bagus sekali di mata kebanyakan orang, dapet gaji UMR. Masalahnya adalah saat saat masuk di pabrik tersebut, saya dimasukkan di tempat dimana seharusnya orang seperti saya yang memakai kacamata tidak diperbolehkan untuk bekerja di sana. Alasannya sederhana, karena saya harus sering memanjat dan keluar masuk mesin pendingin yang membuat kacamata saya mengembun hingga tidak bisa melihat. Tapi karena saat saya masuk mendapat pertolongan ayah saya yang kerja di tempat tersebut yang berteman baik dengan manager pada saat itu, akhirnya saya masih bisa masuk sampai – sampai tidak ada orang yang berani memindahkan saya meskipun ayah saya meminta kepada teman baiknya yang bertanggungjawab di bagian tersebut dikarenakan yang menempatkan saya di tempat tersebut adalah manager sendiri.

Memang sungguh Allah maha pengasih dan penyayang. Saya diberi Allah sebuah fitrah, kelebihan untuk kritis terhadap sesuatu meskipun saya tidak memiliki ilmu yang cukup. Saya bisa rasakan bahwa saya tidak suka berbohong, bahkan selalu ada hal yang mengganjal di hati jika saya melakukannya baik secara langsung maupun tidak langsung karena alasan tidak berani berkomentar karena takut dibenci dan malu mengungkapkan pendapat. Padahal sholat saya sering bolong – bolong, cuma asal sholat, sering bermaksiat, pecandu game dan pecandu pornografi.

Ringkas cerita pada saat bekerja di tempat tersebut ada dua hal yang membuat saya akhirnya pindah bekerja ke bank. Yang pertama adalah karena orang – orang di tempat saya bekerja bekerja sama dalam hal keburukan. Jam istirahat yang seharusnya satu jam, mereka buat menjadi 2 jam. Padahal saat ada atasan dari direksi yang berparas china, apalagi jika ada kerusakan di mesin tempat kami bekerja, istirahat yang benar hanyalah satu jam.

Saat pertama kali bekerja di sana, saya memahami satu hal yang menurut saya baik, bahwa mereka membuat istirahat yang seharusnya satu jam menjadi dua jam di malam hari sebagai bagian dari langkah pencegahan agar operator mesin tidak ketiduran di saat jam jaga. Karena dibutuhkan kewaspadaan yang tinggi saat mesin beroperasi dan operator yang ada hanya bekerja sendiri di tempat yang sepi dan dingin. Tapi yang jelas saya malah menemukan bahwa hal tersebut ditemukan juga di siang hari dan sore hari. Ringkasnya hal ini menjadi kebiasaan yang mengakar.

Pada saat pertama kali bekerja, saya berusaha tetap pada prinsip saya, bahwa istirahat di waktu kerja hanya satu jam. Tapi karena hati saya yang lemah, akhirnya saya lama – kelamaan jadi ikut – ikutan karena saya sendiri lelah harus bekerja tepat waktu, sedangkan setiap orang yang saya kenal tidak bekerja demikian.

Saya jadi ingat ada sebuah hadist yang sering saya dengar tentang pergaualan dan pertemanan,

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dengan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetapa mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapat bau asap yang tidak sedap.”(HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Yang saya tangkap dari hadist diatas adalah jika kita berteman dengan orang yang buruk, suka bermaksiat, lama – kelamaan kita akan menjadi seperti mereka. Apalagi jika kita tidak punya ilmu, suka ikut – ikutan dan mempunyai hati yang lemah, Itu juga yang saya alami pada saat saya masih SMP, kenal hal – hal buruk, dari film vulgar, pornografi dan playstation. Saya sebenarnya tidak pernah tahu itu semua, kecuali playstation yang mungkin hanya sekali dua kali main dalam waktu setahun. Teman – teman sayalah yang mengajak dan memberi tahu.

Untung saja saya tidak kecanduan rokok. Dulu saya pernah mencicipi rokok karena disuruh oleh orang tua yang menjadi tetangga saya dulu. bagusnya, pada saat mencicipi rokok tersebut, ada ayaha saya yang lewat, akhirnya saya diseret dirumah dan dihajar habis – habisan, Alhamdulillah.

Sampai sekarang pun saat saya ditawari rokok dan mencoba menghisapnya, tidak ada hal yang dapat membuat saya menyukainya. Baunya juga tidak enak dan menyengat, kenapa juga saya harus merokok.

Sungguh jika saya tidak mengenal itu semua, saya berpendapat mungkin nilai – nilai saya di sekolah tidak akan hancur. Tapi itu semua sudah takdir dan alhamdulillah saya akhirnya tahu mana hal yang baik dan mana yang buruk meskipun saya belum bisa melakukan seratus persen.

Kembali ke topik utama, hal kedua yang membuat saya keluar dari pekerjaan saya adalah karena pernah pada suatu waktu saat mesin produksi macet, saya harus naik ke atas untuk memperbaiki kerusakan itu. Bersama rekan saya di sisi satunya, kita berusaha memperbaiki permasalahan yang ada di tempat tersebut. Tapi, kemudian rekan memberikan sebuah alat, melemparkannya ke atas tray tempat makanan di tengah mesin tersebut, dia bermaksud memberikan alat tersebut kepada saya untuk memperbaiki sisi satunya di tempat saya berdiri.

Berada 7 meter di atas mesin, saya mencoba meraba letak dimana alat tersebut di lemparkan. Saya merasa aneh, mengapa kabut di atas tempat pendingin ini begitu tebal, karena jika anda tahu bahwa tempat kerja saya berada di ruangan pendingin tertutup dan pendinginnya sedang mati. Dan sifat udara panas yang mengarah ke atas membuat tempat saya berdiri di ketinggian tersebut berkabut karena uap air. Kemudian teman saya menegur saya dalam bahasa jawa,”gus, kamu tidak kelihatan ?”, sontak saya menjadi bingung karena saya hanya melihat warna putih, kemudian saya mencoba menggosok kacamata saya.

Akhirnya saya sadar bahwa itu adalah embun yang menempel di kaca mata saya sendiri. Tapi yang bikin runyam adalah semakin saya gosok, kacamata saya semakin kotor. Saya baru sadar bahwa itu karena tempat yang basa bercampur dengan kotoran – kotoran di tempat itu. Yang membuat takut adalah, saya bekerja tanpa alat pengamanan, bergelantung dengan dua tangan dan kaki dan harus berpegang erat di tiang, di tempat yang licin dengan masalah kacamata membuat saya susah payah menyelesaikan pekerjaan itu.

Singkat cerita, setelah susah payah menyelesaikan pekerjaan dan pulang kerumah. Selama beberapa hari atau mungkin beberapa minggu, saya terus berpikir, jikalau saya sudah dilepas seratus persen dan tidak sedang di training, bagaimana saya harus menyelesaikan pekerjaan saya, dan bagaimana pula saya menghadapi “istirahat 2 jam” ini? Kadang saya harus menginjak bahan – bahan makanan yang dibekukan itu, kadang juga tertimpa dengan oli dan kotoran – kotoran lain.

Berbeda dengan gudang tempat ayah saya jadi supervisor yang diharuskan orang – orangnya harus disiplin dan bermental baja dan berotot kawat. Dan tidak ada namanya istirahat ilegal selama 2 jam, karena saya sendiri sudah bertanya pada ayah saya yang jadi supervisor di tempat tersebut. lain halnya di gudang tempat saya bekerja yang orang – orangnya bekerjasama dalam hal yang menurut saya buruk.

Rupanya tawaran kerja dari budhe saya dari salah seorang koneksinya tiba – tiba muncul untuk bekerja di Bank yang akhirnya saya terima. Memang lucu bagaimana saya bisa diterima bekerja di bank tersebut, padahal saya sendiri cuma lulusan SMK, sedangkan saya mendengar cerita dari budhe saya beberapa bulan saat saya keluar, bahwa semua orang yang tes wawancara, IQ dan tulis bersamaan dengan saya adalah lulusan S1. Mungkin itu yang disebut kekuatan koneksi.

Nama lembaganya adalah PNM Ulamm, dan setelah beberapa persetujuan seperti jika saya harus menyerahkan ijazah asli saya sebagai jaminan dan menandatangi perjanjian bilaman saya keluar sebelum satu tahun bekerja, akhirnya saya terima dengan senang hati. Harapannya adalah agar segera mendapat jodoh karena yang saya tahu saat itu, wanita hanya tertarik pada orang dengan pekerjaan yang menurut mereka bisa menjamin masa depan.

Akhirnya saya pun bekerja di bank tersebut, saya sendiri awalnya masih tidak tahu dan awam mengenai bank bunga dan keharamannya. Namun kemudian, karena tekanan pekerjaan yang berat dan mental saya yang waktu itu masih rapuh, membuat saya selalu saja ingin cepat pulang. Apalagi pekerjaan ini membuat saya harus selalu bertatap muka dan menagih nasabah lewat telfon, padahal saya sendiri mempunyai demam panggung akut. Ditambah jam kerja yang sangat panjang, dari jam 8 pagi sampai selesai (kadang jam 7 malam sampai jam 8 malam).

Kemudian di dalam kos – kosan, setelah beberapa hari di selah kecanduan game saya, setelah saya membuka game Clash of Clans, saya akhirnya tanpa sadar mencari tahu tentang hukum bekerja di bank. Maklum, sebelum mencari tahu tentang hukum bekerja di bank riba, yang saya tahu jika saya bekerja di debit, maka gajinya halal, jika saya bekerja di kredit maka haram.

Kemudian pada saat browsing di google, saya mengetahui hal pahit, ternyata kerja di bank riba haram. Saya mencoba mencari pembenaran, memang ada beberapa sumber yang saya dapat mengatakan bahwa kerja di bank boleh. Bahkan menurut pengakuan orang tua saya, di pengajian ada ustad yang membolehkan kerja di bank dengan alasan darurat.

Saya cari lagi dan lagi, yang sering saya temukan adalah hadist tentang riba yang intinya mengatakan yang nyatet dapat dosanya juga. Dalam hati saya cuma bisa bilang, “saya kan kerjanya juga nyatet, sebagai admin?”. Saya terus mencari pembenaran, namun tidak ada yang membuat saya puas, bahkan orang tua saya tetep ngotot minta saya kerja di lembaga itu selama setahun baru kemudian mengundurkan diri.

ini baru seminggu kerja, badan jadi loyo, gak semangat, bingung mau nerusin, takut dosa. Akhirnya kondisi tubuh menurun dan saya tidak kerja selama beberapa hari sampai – sampai manager di tempat saya bekerja mendatangi rumah saya yang sangat jauh (+- 25 km) karena saya pulang kerumah orang tua dan tidak kerasan di tempat kerja.

Setelah itu saya kembali bekerja dengan perasaan was – was, baru juga 2 minggu kerja. Namun pada suatu waktu saya iseng melihat total tagihan yang harus dibayarkan nasabah yang akan membayar, padahal sebelumnya saya cuma melihat total tagihan di dampingi dengan karyawan yang sedang men-training saya.

Saya heran bukan kepalang, karena saya mendapati bahwa dari total hutang 80 juta yang diambil, nasabah ini punya total tagihan yang harus di bayarkan hampir 110 juta. Dalam hati saya jadi kaget dan merasa iba, “kenapa bunganya hampir 30 juta?” saya lihat di monitor banyak angka yang menunjukkan presentase dan bunga, saya berkeyakinan seratus persen bahwa ini riba.

Ada juga pada suatu waktu saya mendengar percakapan wakil manager dengan seorang calon nasabah yang ingin meminjam uang. Yang saya ingat, ada satu percakapan yang mereka yang mengatakan bahwa nasabah ini mendapatkan uang sebanyak sekian(misal 20 juta) tapi pada saat itu juga nasabah tersebut harus membayar cicilan pertama(jadi yang diterima tidak sampai 20 juta). (mungkin in benar atau juga salah, saya sudah agak lupa, karena kejadian sudah 2.5 tahun yang lalu).

Hal ini sangat tidak masuk akal, hutang tapi dipotong, bunganya gak masuk akal. Dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti meskipun banyak yang tidak terima. Bahkan ada seseorang dari keluarga besar dari silsilah buyut ibu saya yang tidak terima dengan keputusan saya, dan bahkan istrinya berkata bahwa bank syariah sama saya dengan bank konvensional. Mungkin karena kesuksesan dan kelebihan harta mereka dikarenakan mereka kerja di bank, tapi saya sudah punya pendirian sendiri.

Setelah itu saya menganggur selama beberapa bulan, dan akhirnya bekerja di tempat budhe saya yang lain dari silsilah buyut-nya ibu yang punya perusahaan sekelas CV di bedang percetakan sebagai kuli serabutan yang kadang angkat – angkat di truk(padahal sebelum kerja di pabrik sebagai operator, saya jadi graphic designer hampir dua tahun) dan meskipun gaji yang saya terima dibawah UMR sekitar 1.2 juta saat UMR 2.2 jt dan sekarang naik menjadi 2 juta saat UMR lebih 3.2 juta , saya sangat bersyukur bisa sadar dan keluar dari dosa riba sebelum smepat menikmati gaji pertama, krena gaji yang saya terima saya peruntukkan untuk menebus ijazah saya yang ditahan oleh pihak bank.

Baru – baru saya dipindahkan dari kuli serabutan jadi operator mesin cetak dan pengganti admin di bidang digital printing. Si Bos sedang merintis usaha baru karena surutnya dan sulitnya mendapatkan untung dari usaha percetakan offset dan alat peraga sekolah yang dulu. Namun pada saat bersamaan saya mengetahui bahwa ada hukum yang tidak membolehkan kita untuk hukum memakai barang bajakan, atau bahkan tolong menolong dalam kemaksiatan.

Tentu sudah jadi hal umum bahwa orang indonesia hampir semua memakai barang bajakan dan orang – orang yang mencetak baner di tempat saya hampir bisa dipastikan memakai barang bajakan dan bahkan tempat kerja saya juga melakukan hal serupa. Jika semisal kita mencetak sebuah baner yang di dalamnya ada gambar seorang wanita yang aurotnya terbuka atau banner yang diperuntukkan untuk warung yang menjual minum – minuman keras, bagaimanakah hukumnya? bagaimana hukum semua ini?

 

Sumber : ilmupertamax

The post PERASAAN SAAT MENCICIPI KERJA DI BANK RIBA appeared first on Rumah Halal.

]]>
HUKUM DENDA DI BANK SYARIAH https://rumahhalal.com/blog/2018/03/13/hukum-denda-di-bank-syariah/ https://rumahhalal.com/blog/2018/03/13/hukum-denda-di-bank-syariah/#comments Tue, 13 Mar 2018 03:24:24 +0000 https://rumahhalal.com/?p=1164 RumahHalal.com - TANYA : Ustadz, mohon pencerahan tentang fatwa sanksi denda yang terdapat dalam fatwa DSN MUI (Dewan Syariah Nasional MUI) nomor 17/DSN-MUI/IX/2000, dengan ketentuan; (1) nasabah yang tidak mampu yang disebabkan alasan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi; (2) denda dikenakan kepada nasabah mampu tapi tidak punya kemauan dan itikad baik melunasi utang; (3) tujuan […]

The post HUKUM DENDA DI BANK SYARIAH appeared first on Rumah Halal.

]]>
RumahHalal.com – TANYA : Ustadz, mohon pencerahan tentang fatwa sanksi denda yang terdapat dalam fatwa DSN MUI (Dewan Syariah Nasional MUI) nomor 17/DSN-MUI/IX/2000, dengan ketentuan; (1) nasabah yang tidak mampu yang disebabkan alasan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi; (2) denda dikenakan kepada nasabah mampu tapi tidak punya kemauan dan itikad baik melunasi utang; (3) tujuan sanksi agar nasabah lebih disiplin menjalankan kewajibannya; (4) besarnya sanksi ditentukan berdasarkan kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani; (5) dana dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial.

JAWAB:

Memang sebagian ulama kontemporer (termasuk DSN MUI) telah membolehkan denda finansial di lembaga keuangan syariah (seperti bank syariah) sebagai ta’zir kepada nasabah yang mampu tetapi menunda pembayaran utangnya. (Abdullah Mushlih & Shalah Shawi, Maa Laa Yasa’u al Tajir Jahluhu, hlm. 337).

Dalilnya antara lain sabda Nabi SAW, ”Menunda pembayaran utang oleh orang kaya adalah suatu kezaliman.” (Arab : mathlul ghaniy zhulmun). (HR Bukhari). Juga sabda Nabi SAW, ”Menunda pembayaran utang oleh orang yang mampu telah menghalalkan kehormatannya dan sanksi kepadanya.” (Arab : layyul waajid yuhillu ‘irdhahu wa ‘uquubatahu). (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, dan Al Hakim).

Menurut sebagian ulama tersebut hadits-hadits di atas dianggap sebagai dalil bahwa jika nasabah yang mampu menunda pembayaran utangnya, maka ia dapat dikenakan sanksi (‘uqubat), termasuk denda finansial. (Abdullah Mushlih & Shalah Shawi, ibid., hlm. 337).

Namun pendapat yang membolehkan denda finansial tersebut ternyata ditolak oleh sebagian ulama kontemporer lainnya. Pendapat yang tidak membolehkan denda finansial inilah yang kami anggap lebih kuat (rajih) walaupun dikenakan kepada nasabah yang mampu. (Lihat : Ali Ahmad As Salus, Mausu’ah Al Qadhaya Al Fiqhiyyah al Mu’ashirah wa Al Iqtishadi Al Islami, hlm. 449; Ahmad Al Jazzar Muhammad Bisynaq, Al Syarth Al Jazaiy wa Al Badail Al Syar’iyyah Lahu, hlm. 169-170; Prof. Dr. Ali Muhammad Al Husain Al Showa, Al Syarth Al Jazaiy fi Al Duyuun : Dirasah Fiqhiyyah Muqaranah, hlm. 23-25).

Alasan-alasan mengapa denda finansial tidak boleh dikenakan walaupun kepada nasabah yang mampu, antara lain;

Pertama, bank syariah tidak mempunyai kewenangan (sholahiyah/wilayah) untuk menjatuhkan sanksi berupa denda finansial yang diklaim sebagai sanksi ta’zir. Sebab yang berhak menjatuhkan sanksi ta’zir hanyalah peradilan syar’i (al qadha al syar’i) saja, yang menjadi wakil (naib) dari Imam (Khalifah). (Abdurrahman Al Maliki, Nizham Al ‘Uqubat, hlm. 7).

Kedua, hadits yang digunakan sebagai dalil tidak tepat, yaitu hadits yang menghalalkan kehormatan dan sanksi (‘uqubat) kepada orang mampu yang menunda pembayaran utangnya. Karena meski orang mampu yang menunda pembayaran utang layak dijatuhi hukuman (‘uqubat), tapi tak pernah ada seorang qadhi (hakim) atau fuqaha pun dalam sepanjang sejarah Islam yang menjatuhkan hukuman berupa denda. Padahal kasus semacam ini banyak sekali terjadi di berbagi kota di negeri-negeri Islam. Jumhur fuqaha berpendapat hukumannya adalah ta’zir, yaitu ditahan (al habs) meski sebenarnya boleh saja bentuk ta’zir lainnya. (Abdullah Mushlih & Shalah Shawi, ibid., hlm. 338; Ali Ahmad As Salus, ibid., hlm. 449).

Ketiga, denda karena terlambat membayar utang mirip dengan riba, terlebih lagi yang sudah disepakati di awal akad. Maka denda seperti ini dihukumi sama dengan riba sehingga haram diambil. Kaidah fiqih menyebutkan maa qaaraba al syai’a u’thiya hukmuhu. (Apa saja yang mendekati/mirip dengan sesuatu, dihukumi sama dengan sesuatu itu). (Muhammad Shidqi Burnu, Mausu’ah al Qawa’id al Fiqhiyah, IX/252). Wallahu a’lam.[]

 

The post HUKUM DENDA DI BANK SYARIAH appeared first on Rumah Halal.

]]>
https://rumahhalal.com/blog/2018/03/13/hukum-denda-di-bank-syariah/feed/ 2
JUAL BELI BUAH DI ATAS POHON https://rumahhalal.com/blog/2018/03/10/jual-beli-buah-di-atas-pohon/ Sat, 10 Mar 2018 03:23:25 +0000 https://rumahhalal.com/?p=1072 JUAL BELI BUAH DI ATAS POHON RumahHalal.com - Di antara praktik muamalah yang biasa dilakukan orang adalah menggaransi buah-buahan yang masih di pohon, seperti jaminan jeruk nipis, zaitun, mentimun, anggur, kurma dan sejenisnya. Sebagian memberikan garansi zaitun selama dua atau tiga tahun, bahkan lebih. Karenanya, dia mengolah, meluruskan dan merawat pohon itu setiap tahunnya dan […]

The post JUAL BELI BUAH DI ATAS POHON appeared first on Rumah Halal.

]]>
JUAL BELI BUAH DI ATAS POHON

RumahHalal.comDi antara praktik muamalah yang biasa dilakukan orang adalah menggaransi buah-buahan yang masih di pohon, seperti jaminan jeruk nipis, zaitun, mentimun, anggur, kurma dan sejenisnya. Sebagian memberikan garansi zaitun selama dua atau tiga tahun, bahkan lebih. Karenanya, dia mengolah, meluruskan dan merawat pohon itu setiap tahunnya dan memakan buahnya. Faktor-faktor pemberian garansi lebih dari satu tahun adalah karena zaitun, misalnya, tidak menghasilkan buah yang baik setiap tahunnya, tapi biasanya pada tahun ini pohon itu menghasilkan buah yang lebat, maka tahun berikutnya mengalami kekurangan, karena pohon itu menumbuhkan ranting pada tahun sekarang, dan menghasilkan buah pada tahun berikutnya.

Pohon, meski telah menghasilkan buah yang baik, tetap membutuhkan perawatan dan perhatian ekstra. Dengan demikian, orang yang memberikan jaminan sekian tahun boleh mengambil uang untuk biaya perawatan agar pohon dapat berbuah lebat. Hal yang sama dengan pohon zaitun adalah jeruk nipis dan yang sejenisnya. Sebagian orang memberikan garansi pohon zaitun, jeruk nipis dan anggur, sebagaimana dia menjamin mentimun untuk masa setahun. Standar jaminan disesuaikan dengan buah yang ada di pohon tanpa melihat banyak-sedikitnya atau bagus-jeleknya buah.

Jaminan sebagai jaminan sebenarnya adalah praktik jual-beli buah yang masih di atas pohon, bukan membeli pohon atau membeli buahnya pohon selama dua, tiga tahun atau lebih. Adapun memberikan jaminan pohon selama dua tahun atau lebih itu adalah membeli buah yang tidak ada, karena memang buahnya belum ada. Dan tidak boleh menjual barang yang tidak ada, karena itu termasuk jual-beli yang mengandung unsur penipuan [gharar]. Itu hukumnya jelas haram, karena ada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasululloh saw. melarang jual-beli kerikil dan jual-beli yang mengandung penipuan [bai’ al-ghoror], sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Karenanya menjual buah di pohon untuk beberapa tahun tidak diperbolehkan, karena termasuk gharar, mengingat penjualan buah di pohon selama dua, tiga tahun atau lebih dianggap menjual barang yang belum menjadi miliknya, dan itu tidak diperbolehkan.

Lebih dari itu, transaksi semacam ini, adalah transaksi salam yang dilarang, karenanya tidak diperbolehkan. Sebab salam itu menjual buah yang tidak ditentukan, sementara transaksi di atas itu menjual buah yang sudah ditentukan. Nabi saw. melarang salam pada buah pohon yang ditentukan. Penduduk Madinah, ketika Nabi saw. tiba di sana sudah mempraktekkan salam pada buah kurma, lalu Nabi sw. melarangnya. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh orang-orang yang memberikan garansi pada pohon zaitun dan jeruk nipis dari membeli buahnya selama masa dua atau tiga tahun itu hukumnya haram. Praktek ini termasuk praktek jual-beli yang oleh syara’ secara tegas dilarang.

Adapun menjamin buahnya pohon yang jelas buahnya, juga menjamin mentimun dan yang sejenisnya, itu adalah menjual buah yang masih ada di atas pohon. Jadi tidak termasuk menjual barang yang bukan menjadi hak milik penjual, karena barangnya ada padanya. Juga tidak termasuk memesan buah kurma itu sendiri. Karena ia adalah jual-beli saat itu juga, sehingga tidak termasuk salam. Karena itu, hukumnya berbeda dengan hukum memberi jaminan selama dua, tiga tahun atau lebih.

Hukum syara’ dalam praktek di atas; menjual barang yang ada dan masih di pohon itu membutuhkan rincian dan perlu dilihat buahnya. Jika buah itu sudah layak dikonsumsi, maka hukumnya boleh. Tetapi jika buah itu belum layak, maka tidak boleh. Sebab, hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir ra, berkata, “Rasululloh saw. melarang menjual buah-buahan sebelum matang”, dan hadits “Rasululloh saw. melarang menjual buah sebelum tampak kelayakannya”, juga hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, berkata, “Rasululloh saw. melarang menjual buah-buahan sebelum matang [syaqqah].

Lalu, ada yang bertanya, “Apa itu syaqqah?” Beliau menjawab, “Memerah dan menguning dan bisa dimakan.” Semua hadits di atas secara tegas melarang jual-beli buah-buahan yang masih mentah. Dari teks (manthuq) hadits tersebut bisa diambil kesimpulan tidak boleh menjual buah-buahan sebelum tampak kelayakannya, sedangkan dari pengertian (mafhum) hadits, berarti boleh menjual buah-buahan yang sudah layak (sudah masak). Dengan demikian, menjamin pohon yang sudah tampaknya buahnya seperti zaitun, jeruk tipis, kurma dan lainnya itu boleh jika sudah dapat dirasakan, dan tidak boleh kalau belum bisa dirasakan.

Semoga bermanfaat.

The post JUAL BELI BUAH DI ATAS POHON appeared first on Rumah Halal.

]]>
PRINSIP DASAR ZAKAT PROFESI https://rumahhalal.com/blog/2018/03/05/prinsip-dasar-zakat-profesi/ Mon, 05 Mar 2018 04:35:30 +0000 https://rumahhalal.com/?p=957 prinsip dasar zakar profesi RumahHalal.com  Oleh : Ustadz Ahmad Sarwat Tidaklah disebut zakat profesi kecuali bila : 1. Tidak pakai Nishab 2. Tidak pakai Haul Zakat profesi yang masih pakai nishab dan masih mengharuskan haul, maka namanya bukan zakat profesi lagi, melainkan zakat uang/emas/perak. Zakat emas itu nishabnya 85 gram, kalau dikonversi ke rupiah paling […]

The post PRINSIP DASAR ZAKAT PROFESI appeared first on Rumah Halal.

]]>
prinsip dasar zakar profesi

RumahHalal.com 
Oleh : Ustadz Ahmad Sarwat

Tidaklah disebut zakat profesi kecuali bila :

1. Tidak pakai Nishab

2. Tidak pakai Haul

Zakat profesi yang masih pakai nishab dan masih mengharuskan haul, maka namanya bukan zakat profesi lagi, melainkan zakat uang/emas/perak.

Zakat emas itu nishabnya 85 gram, kalau dikonversi ke rupiah paling kecil 42,5 juta. Asumsinya harta 1 gram emas Rp. 500 ribu. Terus siapa orang yang gajinya 42,5 juta sebulan? Ada sih, tapi kalangan tertentu saja. Jumlahnya pasti sedikit sekali.

Padahal uang sebanyak (42,5jt) itu harus dimiliki dulu selama setahun (qamariyah) dan tidak boleh berkurang di tengahnya. Itu namanya harus ada haul, yaitu masa kepemilikian selama setahun. Dan memang tidak boleh berkurang di tengahnya. Begitu sempat dipakai, maka harus dihitung dari awal lagi. (Kalau pakai mazhab lain ada yang boleh bolong di tengah, sih)

Nah, maunya para pendukung zakat profesi disana itu, jangan pakai nishab-nishaban dan jangan pakai haul-haulan. Soalnya udah kebelet ingin menarik zakat dari para pekerja.

Kalau pun maksa mau pakai nishab, harus dicari nishab zakat termurah. Biasanya pakai nishab tanaman yang (salah satu versinya) cuma 520 kg gabah. Misalnya harga gabah 10 ribu/kg, kan nisahbnya cuma 5,2 juta. Jadi banyak yang terkena nishab.

Atau nishabnya ‘diakali’ dengan cara bikin nishab bayangan. Akalnya tuh pinter banget ya. Misalnya, Anda punya gaji sebulan cuma 4 juta, kan gak kena nishab. Tapi kemudian dibuat perhitungan bahwa dalam setahun, Anda bakalan punya gaji 4 x 12 juta = 48 juta. Jadi Anda TETAP akan kena nishab. Gitu lho mengakalinya.

Haul?
Gampang kok menghidarinya, bilang saja hadits tentang haul itu dhoif, sebagaimana alasan Yusuf Al-Qaradawi dalam Fiqih Zakatnya. Biasanya kalau dibilang haditsnya dhaif, orang langsung berani melangkahi begitu saja. Beres, kan?

Maka resmilah zakat profesi itu bisa ditarik dari pegawai rendahan yang gajinya cuma tiga koma. Maksudnya tanggal tiga sudah koma. Sebab sudah tidak ada lagi nishab dan tidak ada lagi haul.

Ini zakat hasil rekayasa genetika yang diamini dan amat digemari oleh semua LAZ/BAZ. Sebab mereka kan juga harus kejar setoran. Minimal harus punya pemasukan zakat sekian milyar (saya lupa berapa angkanya). Kalau nggak, maka LAZ/BAZ Anda akan ditutup.

Maka resmilah saya dimusuhi oleh semua pengelola LAZ/BAZ karena bilang bahwa zakat profesi itu tidak ada ayat Quran dan haditsnya, bahkan tidak ada dalam kajian fiqih 4 mazhab sepanjang 14 abad.

Salah satu pengurus pengajian perkantoran bahkan sempat mewanti-wanti saya untuk jangan membahas zakat profesi, sebab fakta-fakta yang saya kemukakan dianggap ‘berbahaya’ bagi kelangsungan BAZ/LAZ mereka.

Jadi saya diminta ‘berdusta’ atas nama Al-Quran dan Hadits bahwa zakat porfesi itu ADA di dalam keduanya. Nauzdubillah.

Saya tidak anti dengan zakat profesi. Saya cuma mau jujur, bahwa zakat profesi itu baru ada sekitar 50-an tahun yang lalu, setelah diinisiasi oleh Yusuf Al-Qaradawi dalam Fiqih Zakat sebagai disertasi beliau. Sebelumnya memang tidak ada ulama yang membahas zakat profesi dalam kitab-kitab fiqih, tafsir dan lainnya.

Oleh Qaradawi, diberilah istilah yang keren, yaitu zakatu kasbil amal wal mihan al-hurrah.

 

The post PRINSIP DASAR ZAKAT PROFESI appeared first on Rumah Halal.

]]>
MEMANFAATKAN BUNGA BANK UNTUK BIAYA ADMINISTRASI, BOLEHKAH ? https://rumahhalal.com/blog/2018/03/03/memanfaatkan-bunga-bank-untuk-biaya-administrasi-bolehkah/ Sat, 03 Mar 2018 01:48:08 +0000 https://rumahhalal.com/?p=891 MEMANFAATKAN BUNGA BANK UNTUK BIAYA ADMINISTRASI, BOLEHKAH ? Oleh : Ustadz Ammi Nur Baits Prinsip utama yang perlu untuk selalu kita perhatikan, bahwa bunga bank yang ada di rekening nasabah, sama sekali bukan hartanya. Karena itu, nasabah sama sekali tidak dibenarkan menggunakan uang bunga tersebut, untuk setiap kepentingan yang manfaatnya kembali kepada dirinya, apapun bentuknya. […]

The post MEMANFAATKAN BUNGA BANK UNTUK BIAYA ADMINISTRASI, BOLEHKAH ? appeared first on Rumah Halal.

]]>
MEMANFAATKAN BUNGA BANK UNTUK BIAYA ADMINISTRASI, BOLEHKAH ?

Oleh : Ustadz Ammi Nur Baits

Prinsip utama yang perlu untuk selalu kita perhatikan, bahwa bunga bank yang ada di rekening nasabah, sama sekali bukan hartanya. Karena itu, nasabah sama sekali tidak dibenarkan menggunakan uang bunga tersebut, untuk setiap kepentingan yang manfaatnya kembali kepada dirinya, apapun bentuknya.

Dalam masalah pajak misalnya, bisa jadi ada sebagian wajib pajak yang dia merasa didzalimi dengan adanya beban pajak yang menjadi kewajibannya. Namun dia tidak boleh menutupi kewajiban pajaknya dengan menggunakan bunga bank. Karena bunga bank ini bukan miliknya, sehingga tidak boleh dia gunakan untuk membayar kewajiban pajaknya, sehingga ada manfaat bunga bank itu yang kembali kepada dirinya.

Sementara kaidah yang berlaku, kita tidak boleh menghilangkan kedzaliman dengan mendzalimi orang lain. Dr. Muhamad Ali Farkus – ulama al-Jazair – pernah ditanya tentang hukum membayar pajak dengan bunga.

Jawaban beliau,

أمّا إذا تولّدت على أمواله المودعة في البنك زيادة ربوية، فالواجب أن يتوب من ظلمه بأكله أموال الناس بالباطل، وتتوقف توبته على التخلص من المال الحرام الذي ليست له ولا للبنك صفة المالك، وإنما المال الحرام مال عام يرجع فيه إلى المرافق العامة، ومنافع المسلمين، ومصالحهم، أو الفقراء والمساكين عند تعذر ذلك بالنظر إلى عدم معرفة الأشخاص الذي ظلموا في هذه المعاملات الربوية وأخذت منهم زيادات ربوية.

“Jika uang yang disimpan menghasilkan tambahan bunga (riba) maka pemiliknya wajib bertaubat dari kedzalimannya, karena memakan uang orang lain dengan cara yang tidak benar. Bukti taubatnya adalah dengan membersihkan diri dari harta haram yang bukan miliknya dan tidak pula milik bank.
Akan tetapi uang haram ini menjadi harta umum, yang harus dikembalikan untuk kepentingan umum kaum muslimin atau diberikan kepada fakir miskin. Mengingat tidak mungkin (dikembalikan ke pemilik), karena tidak diketahuinya siapa orang yang didzalimi dalam transaksi riba ini, dan siapa yang hartanya diambil untuk bunga tersebut.”

Beliau melanjutkan,

ولما كانت الزيادات الربوية مالا عاما يملكه عموم المسلمين، فلا يستطيع بملك الغير أن يسدّد به الضرائب التي فرضت عليه على وجه الاعتداء أيضا

“Karena uang riba yang ditambahkan adalah uang umum yang dimiliki seluruh kaum muslimin, maka tidak mungkin seseorang menggunakan harta milik orang lain untuk membayar pajak yang menjadi beban kewajibannya, yang juga dipungut secara dzalim.”

(Sumber: http://ferkous.com/ fatwa no. 120)

Demikian pula yang difatwakan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah di bawah bimbingan Syaikh Dr. Abdullah al-Faqih.

Dalam fatwanya no. 23036 dinyatakan:

تغطية هذه الضرائب من فوائد البنك فلا يجوز، لما في دفعها من الحماية لماله، وبالتالي اتنفاعه من هذه الفوائد المحرمة

“Membayar pajak dengan bunga bank, hukumnya tidak boleh, karena pembayaran pajak akan memberikan perlindungan bagi harta pemiliknya, sehingga dia telah memanfaatkan riba yang haram ini.”

Kita semua sepakat bahwa biaya administrasi bank atau biaya apapun yang dibebankan kepada nasabah adalah kewajiban yang harus dibayarkan oleh nasabah kepada bank atas layanan yang diberikan bank kepadanya.

Karena itu, menggunakan bunga bank untuk menutupi biaya administrasi bank, sama halnya menggunakan bunga riba itu untuk kepentingan pribadi kita dan itu hukumnya terlarang.

Wallahu a’lam

The post MEMANFAATKAN BUNGA BANK UNTUK BIAYA ADMINISTRASI, BOLEHKAH ? appeared first on Rumah Halal.

]]>